turn the music on ! : )

Saturday, March 19, 2011

Thanks F.R.I.E.N.D.S

enjoying "jagung bakar" after swimming


going to swimming pool (by mini bus)

It’s like my life going to the dog. I had a crazy week, where I got to many things to do; assignments, test, papers, presentations, writing a lot of letters for a sport event, and attending three meetings in a week. They made wake up earlier (4 a.m) and go to bed late at night, go to campus early in the morning and go home at least at 8 a.m. I felt like I’m going to die, had no time even just to take a breath. Not mention that I made very stupid mistakes in that mistakes; I meant to send an SMS to my mom, but I sent it to one of my friends in committee I joined (guessed he though I really meant to do this), I made some wrong letters, there’s a boy who always watched over me (some of my friends told me that he loved me, but I thought he was so annoying) and so on and so on. Fortunately my lover was always beside me, except when he was jealous to my friend in the committee. I didn’t know why, I just felt like he was so far away from my heart even when he had tried to beg my love. I wanted to disappear.
I just thought I need to hang out, had a dinner or ice cream with my friend. I told me friends, who live with me at the boarding house (Cantik and Anel) , they just smiled while saying I had been too tired, and then we had a dinner in a café. We just ordered the menu and I did a stupid thing (again), I meant to order a glass of sweetened mint tea to Cantik, but I wrote lemon tea (hahaha, stupid). However, everything went so well, we had fun, but I still felt like I have a broken heart. On the next day, I asked another friend (Jessica), to have a dinner in another café. I loved this dinner, I had a chicken cordon bleu and iced lemon tea, they made me better. I loved the moment when Jessica and I were talking about many things, friends, assignments, and test. On Friday, I wish to have a free time to take rest, but I got a text that told me to go for working, teaching my students. Thanks God, I was not alone. I went home, after teaching, with Dwi, she was so nice that evening. We walked home together and talk about many things; love, faith, and family. I guessed she was so funny when she talked about those things very seriously (hahaha), but I love it, whether she realized or not, she just made me feel much better and loved.
I began to feel safe, but it’s all ruined this morning. I had to attend the last meeting of the sport event which committee I joined. I didn’t know exactly, but I felt like something different there. It ruined my feeling that had just recovered. I went home, locked myself in my room, turned the music loud, sang some songs loudly, hoped it would me better. I didn’t work at all. And then suddenly came into my room and asked me to go swimming (with Anel too), so we went swimming on that hot day, didn’t care about the sun would burn our skin or anything (hehe). We had such a good time, went swimming, sang together (some people might think we were crazy, LOL :p), and had dinner together.
We ended the day with a shopping window, went to a bag shop and looked at every single bag there without buying anyone. I purposefully (hehe :p) asked the shop keeper whether there was such kind of purple bag which had a ribbon and teddy bear on it (LOL, I knew, they didn’t have it). When she said “no”, we went out the shop. Hahahahahaha…
I love this day, though I felt loose. I had good friends who are always beside me. They talked about good things, and gave me good suggestions every times I trapped in problems. That’s what friends are for. :D
berenang atau berendam? LOL :p
ketauan ni, jarang makan enak :p

Forever give their hands
Ruin our moment sometimes
I love them
End the sadness
Night or day we could call 'em
Day will be bright with them
Sing the same song with us
yummy chicken cordon bleu...hmmm
Dwi, "Halo mama, anakmu lapar." hehe :p
 

Wednesday, March 16, 2011

Tetap Milikmu


Aku hanya ingin kamu tetap di sini
Diam tenang tak beranjak dari hati
Terlalu banyak semua yang telah terlewati
Begitu indah setiap cinta yang kau beri

Aku selalu memuja hadir dirimu
Rautmu terlukis indah dalam hatiku
Hanya hati kelu resah tak bisa berkata
Mungkin dia terlalu indah saat datang

Genggam erat hatiku, patahkan sayap rasa ini
Aku hanya ingin cinta ini untukmu
Seperti awal kau hadir dalam langkah hidupku
Tanpa berkata aku ingin menahan hadirmu di sini
Hilangkan bayang lain yang datang menarikku
Karena aku tahu aku memang ada hanya untukmu

*de
nb: dedicated to my friend, c'mon girl...never break him :)

*Should I

Should I compare you
to the summer breeze
or to the sun raise in the east
just to find a perfect way
to say I love you
.
Should I call you home, mo lova
there’s no home just fly away
hafta be alone on a way
without ‘em or you…ya…
the oak tree

Tuesday, March 15, 2011

EDO 2011, Tiga Hari yang Luar Biasa


 
Bekerja sama dalam sebuah kepanitiaan agaknya telah menjadi hal yang sangat biasa bagiku dan teman – temanku. Hal yang lumrah jika kami berada di kampus mulai dai jam 6.30 pagi sampai jam 08 malam. Sebagian kegiatan itu berlalu begitu saja dari ingatanku. Berjalan begitu saja dan berlalu tanpa jejak, baik untuk acara yang berjalan luar biasa bagus, biasa – biasa saja, sampai hancur lebur. Jika ditanya bagaimana perasaan dan kondisiku saat itu atau kerja panitia itu jawabanku cuma empat huruf, satu kata, yang ditambah ekspresi nyengir, LUPA.
Sampai saat sekitar tiga bulan lalu aku menerima tawaran untuk interview panitia sebuah event pertandingan olahraga antar angkatan di fakultasku English Department Olympic (EDO). Santai saja dengan sedikit sok cuek aku mau saja mendaftarkan diri sebagai sekretaris. Seperti biasa aku membagi tugas dengan partner kerjaku, Arum, dia membuat proposal sementara aku surat dan LPJ (yang bikin nyesek!).
Sampai dua minggu sebelum acara semua berjalan biasa saja. Aku menikmati setiap rapat yang penuh dengan orang – orang luar biasa, mereka yang lucu, kreatif, atraktif, sportif, dan aktif (maksa banget ni kalimat! Maaf, ga ada kata lucu yang berima -if :p). Sejujurnya aku mengagumi orang – orang di sekitarku. Mereka luar biasa!
Sampai akhirnya seminggu sebelum acara aku mulai terjebak dalam hari – hari tidur larut malam dan bangun pagi buta setelah seharian ada di kampus (lebay). Mengurusi surat ijin dan permohonan peminjaman ternyata tidak sesederhana yang aku bayangkan. Silakan Anda bayangkan bagaimana rasanya menulis surat ijin untuk ratusan orang (mungkin, sih!) tanpa ada tanda tangan yang difotokopi dan semua harus  lembar asli untuk menghindari kecurangan (pasti pernah ada yang curang ngganti  atau nambahin nama, awas lo ya..bikin aku repot =.=” ). Belum lagi pekerjaan yang tertunda berhari – hari karena keterlambatan data peserta yang masuk dengan alasan A – Z. Sebenarnya sudah ada aturan bagi angkatan manapun yang terlambat mengumpulkan data surat ijin tidak akan dibuat, jadi silakan bolos kuliah semoga tidak dapat nilai E. Malang nasibku, aku tidak tega melaksanakan aturan yang aku buat sendiri. Akhirnya aku begadang membuat surat berlembar – lembar dan minta tanda tangan sana sini (dengan strategi muka memelas dan sedikit maksa!) , sampai harus ke rumah Koordinator Bidang Kemahasiswaan fakultasku (untung mau! Terimakasih Bu Neny : ) ). Lebih naasnya lagi yang mengumpulkan data dengan daftar yang rapi dan tepat waktu hanya dua angkatan (makasih, ya, kakak – kakakku yang tertib dan pengertian), yang lainnya? Oh, mantab! Ada yang mengumpulkan data sehari sebelum pertandingan, parahnya data itu tidak berupa daftar, tetapi setumpuk jadwal kuliah! Ada yang mengumpulkan data via email di jam tidurku , memang sudah berupa daftar, tetapi belum lengkap, dan yang paling parah ada yang mengumpulkan setumpuk jadwal yang tidak lengkap ke kost-ku jam Sembilan malam (aku hargai perjuanganmu, tapi ini bikin pusing) dan sebagian malah dikumpulkan saat pertandingan berlangsung jadi suranya telat T.T.
Gara – gara surat itu aku juga jadi merasakan gedung kuliahku yang horror di malam hari. Bayangkan saja, aku dan Arum hanya tinggal berdua di gedung berlantai lima yang sudah gelap dan terkunci (untung mas penjaga ngasih kunci untuk keluar!). Malam itu kami menyelesaikan puluhan lembar surat ijin yang akan dipakai keesokan harinya di ruang Lembaga Kemahasiswaan setelah itu di tengah gerimis yang deras (hehe, gerimis, kok, deras?) kami minta tanda tangan ketua panitia yang kebetulan sedang ada acara farewell party di sebuah tempat makan (untung Pak Ketua ini baik dan pengertian, kalau ga udah kami hajar. Bisa – bisanya malah makan – makan, hehe) dan langsung menuju rumah Korbidkem yang kami tidak tahu tempatnya, tanya – tanya dulu, deh!
Kalau diceritakan dengan detail pasti cerita ini panjang sekali. Singkatnya kepusingan itu berlangsung selama satu minggu (lebih – lebih dikit) dengan tiga hari puncak ke-stressan!
Namun, dibalik itu semua aku menikmatinya. Ketika melihat EO yang bekerja keras mengatur jadwal dan menghadapi hujan yang menunda pertandingan aku merasa begitu bangga. Mugnkin aku capek, tetapi rasanya mereka lebih luar biasa. Aku pernah jadi EO suatu event, aku tahu stress-nya, tetapi mereka bisa menghadapi dengan senyuman (sampai senum terus karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi :p). Panitia lain juga luar biasa, mereka yang ikut bertanding membela angkatan di sela – sela tugas (sampai repot kalau medicare bertanding, yang sakit gimana ?). Luar biasa! Mereka tetap bisa melaksanakan tugas, walaupun lelah (terharu..hiks..hiks..hiks..)
Dan pada akhirnya saat acara penutupan aku menatap wajah – wajah yang masih bersemangat (apa lagi yang menang!) berteriak – teriak. Wajah – wajah lelah dengan kostum sepakbola penuh lumpur yang mengharukan (bener, loh, ada yang nangis!) dan wajah – wajah sportif yang menyalami pemenang. Semua hiruk – pikuk itu berakhir, tinggal kami panitia membenahi barang – barang yang ternyata sangat banyak. Lelah memang, tetapi aku masih bisa tertawa di tengah orang – orang yang penuh canda (teman – teman yang bercanda pake terong, papaya, dan bola pertandingan), lebih – lebih karena ada es krim gratis sisa jualan usaha dana (enak banget!!!).
Aku berjalan pulang di tengah angin malam. Merenungi semua yang aku alami selama tiga hari ini. Trotoar yang kuinjak begitu sepi, kendaraan lengang, tapi aku serasa masih mendengar suara teman – temanku yang luar biasa. Kalau bisa berkata aku ingin berkata, “Kalian luar biasa! Aku belajar banyak hal dari kalian semua, terima kasih sudah ijinkan aku bergabung. Love you all!” 

Monday, March 14, 2011

"Ssssttttt... Aku Terharu!"

Kalau boleh jujur aku ini orang yang tidak pernah tertarik dengan yang namanya pertandingan olahraga, apapun olahraganya atau siapapun pemainnya. Bukan tidak suka, hanya tidak bisa menikmati. Aku selalu bertanya – tanya, bagaimana orang bisa begitu betah nonton sambil teriak – teriak. Mungkin karena aku tidak pernah paham tentang pertandingan – pertandingan itu dan aturan – aturannya.
Sampai suatu hari aku terpaksa menonton semua pertandingan itu karena menjadi panitia sebuah acara olahraga selama tiga hari berturut – turut. Pada awalnya aku hanya memfokuskan diri kepada tugasku sebagai pengetik surat tanpa henti, sekretaris. Ketika datang jeda aku pun mulai mengarahkan pandanganku pada sesuatu yang berlangsung di lapangan, ya, pertandingan! Sepuluh menit pertama lewat begitu saja, sepuluh menit selanjutnya aku mulai menikmati, dan beberapa menit kemudian pertandingan berakhir saat aku mulai menikmati.
Aku mulai bisa merasakan semangat dalam setiap lemaparan bola yang mengarah ke ring atau setiap saat pemain berusaha mempertahankan sebuah bolah putih untuk tetap melayang di udara. Semangat itu terasa diantara teriakan teman – teman yang luar biasa member dukungan. Aku pun mulai iseng menerima tawaran untuk menjadi pencatat skor dan pelanggaran di tepi lapangan hijau dimana dua tim kesebelasan berjuang menendang bola menciptakan gol. Satu pertandingan semi final aku menikmatinya, serasa nonton film sambil makan kerepikik kentang.
Berlanjut ke pertandingan final yang sangat seru. Aku melihat semangat yang berbeda di sana, ada satu warna yang berbeda ketika seorang adik tingkat di sebelahku berkata,
“Mereka berjuang untuk salah satu teman kita yang baru saja patah kaki. Lihat itu, kaosnya dipakai!”
Aku merasakan sebuah perjuangan mengharukan diantara tawa dan dukungan orang – orang di sekitarku. Aku belajar bagaimana mereka mendukung salah seorang teman mereka yang terbilang tidak sehebat teman – temannya, aku belajar bagaimana mereka yang telah lelah bisa menikmati waktu, aku belajar bagaimana bekerja sama dan menghargai teman dari lapangan yang becek dan berlumpur.
Sampai detik terakhir kedudukan masih seimbang, 0 – 0. Aku merasa gugup ketika adu penalty dilaksanakan. Ketika melihat tim berbaju merah itu berangkulan menatap teman mereka yang menentukan nasib, aku belajar bagaimana cara untuk mempercayakan sesuatu terhadap orang lain.  Aku begitu merasakan bagaimana rasanya gagal mempertahankan gawang atau memasukkan bola, aku pernah merasakannya di lapangananku sendiri. Aku tahu bagaimana tulusnya ketika teman kita berkata, “Sudahlah, jangan minta maaf!” Aku merasakan kehangatan kata – kata itu. Bagiku mereka yang ada di lapangan itu adalah juara yang luar biasa.
Sesaat aku tenggelam dalam pikiranku dan tersadar ketika seorang adik tingkat di sebelah berkata,
 “Ka, kenapa?”
Aku malu, tertawa sambil menahan mata yang berkaca – kaca, “Ssstt..aku terharu! Hahaha”
Aku merasa seperti menonton Fireproof Marriage sambil makan es krim. : )

Saturday, March 12, 2011

Pesan dari Sang Pencipta


Ketika Aku menciptakan surga dan bumi, Aku berfirman dan semuanya jadi.

Ketika aku menciptakan pria, aku membentuknya dengan teliti dan menghembuskan nafas kehidupan padanya. Tetapi ketika Aku membentuk wanita, Aku menghiasinya setelah Aku menghembuskan nafas hidup pada pria karena wanita, dia, begitu lembut.

Aku membuat pria tidur agar Aku dapat membentuk wanita dengan indah dan sempurna. Aku membentuknya dari satu tulang pilihan. Aku mengambil tulang rususk pria, yang menjadi perlindungannya. Aku mengambil tulang yg menjaga hati, paru – paru, dan jantung pria untuk membentuk wanita. Aku membentuknya dengan sempurna dan cantik.
Sifat dasarnya seperti ulang rusuk, kuat teapi lembut dan mudah patah. Dia menyediakan perlindungan bagi organ – organ lembut pria. Tulang rusuk akan membiarkan dirinya hancur untuk melindungi hati, paru – paru, dan jantung.

Wanita tidak diambil dari kepala untuk menjadi tuan pria, tidak juga dari kaki untuk dijadikan hamba. Ia diambil dari tulang rusuk untuk berdiri di sisi pria, untuk senantiasa dirangkul, bukan ditinggalkan. Dia, wanita, adalah gadis kecil-Ku yang cantik, bidadari-Ku yang sempurna. Aku akan puas melihat hatinya yang lembut bertumbuh menjadi wanita dewasa.

Matanya memancarkan ketulusan. Bibirnya begitu indah saat berdoa. Wajahnya terbentuk sempurna. Aku memberikan banyak perhatian untuk membentuk wajahnya ketika ia tertidur. Aku membuat hatinya dekat dengan-Ku. Dari segala yang bernafas, dia banyak menyerupai Aku.

Adam berjalan bersama-Ku pada hari – hari dingin dan sendirian. Ia tidak dapat melihat atau menyentuh-Ku, hanya dapat mersakan kehadiran-Ku. Segala hal yang ingin Aku bagikan pada Adam Kubentuk dalam diri wanita. Kesucian-Ku, Kekuatan-Ku, Kasih-Ku, perlindungan-Ku, dan dukungan-Ku. Wanita sangat istimewa, tangan-Nya adalah tangan-Ku.
Pria mewakili gambar-Ku, wanita mewakili perasaan-Ku. Mereka berdua adalah bentukan-Ku yang sempurna. Jadi,,,,

Pria – perlakukanlah wanita dengan baik. Kasihi dan hormati dia, karena dia begitu lembut. Menyakitnya berarti menyakiti-Ku. Apapun yang kau lakukan padanya, itulah yang kau lakukan pada-Ku. Jika kau menghancurkannya, kau hanya menghancurkan hatimu dan menghancurkan Bapa di surga.

Wanita – dukunglah pria. Dalam kesederhanaan tunjukkan padanya kekuatan perasaan yang Kuberikan pada hatimu. Dalam kesepian, tunjukkan padanya kekuatanmu. Dalam kasih tunjukkan bahwa engkau sungguh – sungguh tulang rusuk perlindungannya.

nb: aku cuma pengen share ini j...
aku baca ne dari Buku Renungan beberapa hari lalu ^^
God makes love so beautiful dan strong!!!
just love each others...
Gbu...


*terinspirasi dari 100 Renungan Terpopuler
de

*Why am I Different From the Others?

“Why am I different than the others?”
“Why do you have to be like others?”

Kira – kira itu dialog iklan shampoo Pantene yang sudah berkali – kali aku putar. Kira kira itu juga yang sering aku rasakan. Kadang aku juga berpikir, “Why am I different than the others?”. Kenapa aku tidak bisa melakukan apa yang teman – temanku lakukan. Kenapa aku tidak bisa menyanyikan sebuah lagu yang indah atau menari untuk orang – orang. Kenapa aku tidak bisa berada di sana. Diam. Lalu termenung, “Ini bukan tempatku.”

Satu hal yang aku pikirkan adalah Tuhan tidak pernah menciptakanku dengan percuma. Tuhan tidak pernah menciptakanku sebodoh itu. Tuhan tidak menciptakanku tanpa memberiku ruang dimana aku bisa berbuat sesuatu. Aku berpikir, mungkin terkadang aku harus berada di tempat yang bukan milikku, dimana aku harus berusaha sekuat tenaga untuk sekedar berada di situ, dimana sekuat apapun usahaku aku tetap tidak layak ada di situ. Aku tahu, Dia ingin agar aku melihat betapa luar biasanya orang – orang yang ada di sekililingku. Dia ingin mengajarku untuk benar – benar bisa memperlakukan orang lain sebaik mungkin ketika mereka ada di tempat yang sangat sulit.

Aku kembali berpikir dimana tempatku. Pulang. Mengunci diri di kamar. Sendiri, aku mulai menari dan menyanyi. Iya, di sini tempatku! Aku menarikan jari – jariku di atas kertas, membentuk sketsa wajah orang – orang yang sangat aku cintai. Aku menyanyikan lagu – lagu indah dalam tulisan yang dibaca banyak orang. Aku merasa jauh lebih baik. Aku merasa hidup. Ini panggung pertunjukan dimana aku menjadi bintang, panggung dimana orang – orang mau mendengar lagu yang kunyanyikan dalam untaian kata. Panggung pertunjukan dimana laguku tertulis dengan indah dan dibaca bukan hanya oleh orang – orang di sekililingku, tetapi jutaan orang di luar sana. Panggung dimana tarianku bisa menghibur setiap mata yang memandangnya.