turn the music on ! : )

Friday, January 6, 2012

Pelukis Tua di Dalam Mataku


Ada seorang pelukis tua yang sudah lama menetap di dalam mataku – mata kanan – , mungkin sudah sekitar sembilan tahun terhitung sejak aku memakai seragam putih abu – abu. Pelukis itu tidak pernah tidur dan selalu mempunyai banyak cat di paletnya yang tidak pernah habis. Sebut saja semua warna yang ada di pikiranmu, semua itu lengkap di atas palet yang selalu dipegangnya. Dengan cat seribu warna dan kuas ajaibnya dia selalu melukis banyak hal di balik lensa mataku, tapi dia aneh; lukisannya tidak pernah selesai – setengah jadi lalu ia menghapusnya lagi sebelum memulai lukisan baru. Aliran realisnya membuat dia mampu melukis pemandangan sehalus foto dan senyata tatapan mata.
Kadang pelukis itu mengamuk dan melempari lensa mataku dengan cat dan mengaburkan pandanganku, ia membuatku tak dapat melihat dengn jelas dan bayangan benda yang kulihat entah jatuh dimana – tidak di retina. Aku boleh tenang, ia jarang mengamuk, ia cukup tenang terutama pada malam hari yang gelap. Aku tahu dia butuh banyak cahaya sehingga aku selalu mematikan lampu sebelum tidur agar dia berhenti melukis, saat – saat seperti itu aku mempunyai banyak waktu untuk tidak menatap lukisannya dan bermain imajinasi dengan otakku yang sebagian hampir ditumbuhi jaring laba – laba.
Suatu sore, hari kedua kuliah semester ini setelah libur panjang, aku berjalan sendirian ke kampus di bawah paying merahku. Angin berhembus pelan, namun sangat dingin, gerimis turun begitu rapat, tetapi terlalu rintik untuk disebut hujan. Aku memasuki sebuah ruang kelas di lantai tiga gedung kuliahku, orang menyebutnya gedung F, dan duduk di baris kedua tepat di bangku tengah sehingga aku merasa seperti paku yang menandai titik tengah papan tulis di depanku. Ruangan ini dikelilingi kaca, sebagian memiliki bingkai yang membuatnya bisa dibuka untuk member jalan udara mengalir masuk, sebagian terpasang baku tanpa bisa digerakkan. Hanya ada satu sisi dinding tanpa kaca, di sebelah kananku, yang dibatasi dua pintu abu – abu di masing – masing ujungnya, pintu yang satu terlihat sejajat dengan papan tulis, pintu yang lain sejajar dengan deretan bangku paling belakang.
Aku memandangi dosenku yang berambut pirang berbicara menerangkan dilabus di depan kelas. Dia mulai bercerita panjang lebar tentang literature theory yang akan menjadi teman baikku satu semester ini.
Hujan masih turun, tidak ada yang istimewa. Bagiku hujan hanyalah air yang turun dari langit – benda yang sebenarnya tidak ada – karena hasil kondensasi kumpulan titik air – orang menyebutnya awan – ketika tersentuh udara dingin lalu gugur perlahan dalam bentuk air dan akhirnya disebut hujan. Itu yang aku lihat ketika hujan turun di sore yang begitu dingin. Mendadak pelukis tua di mataku pun melukis hujan yang dilihatnya dari balik lensaku. Ia mulai melukisnya persis seperti pemadangan di luar; hujan terlihat rintik dari balik kaca, turun perlahan membasahi pohon – pohon angsana, pohon pinus tinggi, yang hanya terlihat sebagian dari ruangan ini, dan langit kelabu. Lalu di menorehkan cat berwarna kuning di atas langit, ada beberapa guratan putih dan biru muda terang membentuk banyak sosok bersayap dan bercahaya, wajah sosok – sosok itu tidak terlihat, semua terbisakan cahaya agung putih kekuningan dan sayap – sayap besar mereka tertutup menyembunyikan bahu yang terkulai, tetapi nampak jelas air terus menetes dari wajah mereka, mungkin dari mata, lalu jatuh ke bumi menjadi pemandangan yang aku lihat. Ya, pelukis tua itu memandang hujan sebagai tangisan para malaikat. Entah apa yang yang dipikirkannya.
Lukisan di lensa mataku yang dibuatnya memang sangat indah, tetapi aku sangat membencinya. Pikiranku jadi tidak fokus karena pandanganku terhalang lukisan yang belum dihapusnya, bahkan lukisan itu semakin jelas saat aku memandang ke papan tulis putih dimana ada banyak goresan disana; literary theory and application, philosophy, culture, dan entah apa lagi. Semua itu dihubungan dengan garis – garis dan tanda panah, sementara seorang bule yang cute dan cantik itu itu melangkah kesana kemari dengan blouse putih dan celana abu – abunya yang serasi dengan syal abu – abu gelap bermotif sederhana di lehernya. Lukisan di lensa mataku benar – benar menghalangi pandangan. Menyebalkan. Aku berkedip, syukurlah pelukis tua itu sudah bosan memandang lukisan itu dan menghapusnya entah dengan apa.
Aku tdak pernah mengerti pikiran pelukis tua itu, mungkin dia tidak punya otak sehingga selalu saja melukiskan hal – hal yang tak masuk akal. Pernah aku memandang seseorang yang sebenarnya biasa saja, dengan tatapan sedikit kagum. Pelukis itu mengamuk, dia melukiskan sosok laki – laki dengan cat berwarna hitam untuk mengacaukan pandanganku. Aku sangat marah, karena wajah orang itu menjadi kabur dan aku sulit melihatnya dengan jelas. Semakin aku marah dan semakin hatiku mengaguminya, pelukis tua yang menyebalkan itu semakin menorah cat hitam pekat. Pelukis itu ngotot menggambar sosk mengerikan di lensa mataku. Semakin aku memikirkan orang itu, pelukis tua di mataku semakib menjadi – jadi, tanpa menghapus cat hitam dia menumpuknya dengan cat warna – warni dan melukis tokoh fantasi yang berjalan melintasi planet seperti sebuah negeri dongeng. Ketika aku berpikir orang itu begitu baik dan menyenangkan, pelukis tua itu malah menggambar sesosok pria idiot yang gendut dan tak bisa aku ajak berkomunikasi. Dia memaksaku memandang semua itu bahkan di malam hari ketika lampu kamar telah kumatikan dan aku telah tidur, pelukis tua itu masih saja mengamuk dengan melemparkan palet yang di atasnya terdapat seribu warna cat.
Kadang aku ingin mencungkil mataku saat pelukis itu mengamuk seperti beberapa hari lalu. Dia melemparkan cat, kuas, dan palet hingga berantakan di dalam bola mataku. Sakit. Aku seolah tak dapat membuka mata dan kelopak mataku serasa begitu berat seperti bibir yang terasa tebal saat kamu disuntik obat bius sebelum cabut gigi. Aku menelan parasetamol untuk meredam rasa sakit. Biasanya beberapa jam saja aku sudah pulih, namun saat itu dia benar – benar sudah gila seperti orang patah hati sehingga mengamuk selama empat hari dan aku terpaksa membatalkan beberapa acara karenanya.
Sampai hari ini pelukis tua itu masih tinggal di dalan bola mataku. Entah sampai kapan. Aku membiarkannya, aku hanya takut dia mulai mengamuk atau melukis hal mengerikan saat aku memandang seseorang. Biarlah, aku harus sabar sampai dia melukis sepasang sayap dan garis cahaya saat aku menatap seseorang yang entah siapa.

#Salatiga, gedung F UKSW. 6/01/2012. 05.00 pm.

Thursday, January 5, 2012

Cerita Jendela


Aku menatap kabut tipis yang terlihat seperti selendang bidadari dari balik kaca. Kabut itu turun sedikit demi sedikit dan terlihat transparan ketika melewati lampu jalan di tiang listrik yang bersinar kekuningan menerangi beberapa ruas jalan kecil di bawah balkon sana. Angin terasa lembut menyentuh rambutku yang basah dan kulitku yang baru setengah kering menebarkan aroma sabun mandi yang segar. Aku merasa ada sesisi kosong dalam rongga dadaku setiap kali aku menarik udara masuk ke dalam paru – paru. Udara yang dingin itu seolah – olah masuk menusuk satu sisi paru – paru dan menyelimuti, memenuhi rongga kosong di antara jantung di balik tulang rusukku. Bahkan aku merasa sekalipun aku mendapatkan setengah harta dunia rongga itu akan terus kosong, kepuasan tidak akan mampu mengusirnya.
Aku menutup kaca yang dibingkai kayu berpelitur cokelat tempat aku meletakan sesisi daguku dan menuruni tangga, lalu keluar. Aku berjalan menyeberangi jalan dan memasuki sebuah gang tepat di samping sebuah café, Kampung Steak, dan melihat seorang penjual nasi goreng yang seharusnya lewat di bawah balkon tempatku berdiri tadi. Rupanya dia ada di sini.
Aku memesan seporsi nasi goreng. Ah, tidak!
“Pak, nasi gorengnya ndak jadi. Minta mie rebus saja.”
“Oh, iya, Mbak. Pedes?”
“Pedes banget, Pak.”
Aku menatap bapak penjual nasi goreng dan mie keliling itu, dia tampak tidak ramah dan sedikit ketus. Ya, memang begitu. Kadang dia juga marah jika ada pembeli yang makan dengan piringnya terlalu lama, sehingga dia tidak bisa segera berkeliling menjajakan jualannya itu, tetapi orang masih lebih mementingkan rasa. Agaknya banyak pelanggan setia yang memakluminya dan tetap menikmati masakannya yang memuaskan lidah.
Aku berdiri di seberang gang, di sisi samping sebuah rental komputer dan fotokopi sambil memandang kaca – kaca lebar Kampung Steak yang membiaskan cahaya kekuningan lampu dinding. Seorang laki – laki yang mungkin beberapa tahun lebih tua dariku duduk di balik salah satu jendela, sesekali kedua mata di balik kaca mata berbingkai hitamnya menatap langit di luar, lebih sering dia meletakan tangan di atas meja sambil memandang seorang gadis di depannya yang berambut lurus hampir sepunggung. Aku tersenyum sendiri, keduanya nampak bercerita di balik jendela kaca bening yang lebar, sebuah jendela yang diapit dua jendela dengan bentuk yang sama persis.
Pikiranku melompat – lompat membentuk cerita tanpa alur yang semakin kacau ketika menangkap sebait lagu terdengar sampai keluar café.
Maukah kau tuk menjadi pilihanku…
Menjadi yang terakhir dalam hidupku…
Sial, lagu ini membawaku kepada hal lain. Bukan ini yang seharusnya meracuni otakku. Sedikit terlalu pagi untuk memutar lirik sejenis itu dalam player otakku. Ada sebait senandung lain yang terputar di alam bawah sadarku yang memang tidak sadar, dan terlalu jauh dari kenyataan.
“Mbak, jadinya mie rebus?”
Suara itu mengembalikan kesadaranku ke titik tertinggi. Aku beralih ke sisi lain gang, tepat di bawah jendela tadi. Menempatkan punggungku bersandar di tembok abu – abu di bawah layar yang dibentuk lembaran kaca besar, orang menyebutnya jendela, aku menyebutnya bingkai film lama. Di sini aku tidak dapat menonton film di balik kaca itu.
“Mbaknya kuliah di Satya Wacana, ya?” agak heran, penjual nasi goreng kelilingan itu mendadak mengajakku memulai percakapan, “Jurusan apa?”
“Bahasa Inggris, Pak.”
“Asalnya mana, to?”
“Purbalingga, Pak.”
“Itu ndak yang di Jawa Timur? Opo sing habisnya Wonosobo.”
“Habis Wonosobo, Pak. Nek yang Jawa Timur itu Probolinggo, sanes Purbalingga.”
“Oh, iyo. Anakku, yo, kuliah okh Mbak?”
“Oh, wonten  pundi, Pak?” aku agak canggung memilih bahasa.
“UNY Jogja, ndek kemarin sudah lulus jurusan elektronika, sekarang lagi S2.”
Aku tersenyum, luar biasa. Entah dari mana sekuncup kagum merekah dalam dadaku.
“Di UNY juga, Pak?”
Iyo,  sekarang malah lagi kuliah S1 lagi, tapi informatika. Lah, nek S1 elektronika ndak bisa ngajar di semua sekolah, yak’e.
“Wah, S1nya dobel. Kuliah bareng S2 juga, to, Pak?”
Iyo, tapi dia nyambi ngajar. Nglamar ngajar disana, kok yo angel banget. Katanya yang nglamar banyak, ada dosen juga, dari empat puluh orang, cuma diambil dua, yo kuwi anakku masuk,” bapak itu mengipasi tungku bara tempat dia memasak pesananku, aku melihat matanya setengah menerawang.
Syukur, yo, Pak. Wong, rejeki nggih wonten mawon”
“Iya, berarti besok dia sudah punya tiga ijazah. Kemarin yang elektronika, tahun ini nambah S1 informatika sama S2,” katanya sembari membungkus mie rebus buatanku.
Aku membayar, lalu menatap sekilas ke jendela di atasku dan memandang sekilas. Jendela itu tampak kosong, café terasa lengang, lampu kuning yang redup itu masih bersinar dari balik dinding, dan musik masih terdengar sampai luar. Udara semakin dingin, angin memainkan rambutku nakal, tetapi rasa di dadaku berubah menjadi hangat.
Menyeberangi jalan yang terasa agak sepi, hanya satu dua sepeda motor dan sebuah mobil sedan melintas pelan perasaanku masih kosong. Mataku teralih pada sebuah jendela lain dengan kaca hitamnya yang membuyarkan film dibaliknya menjadi siluet – siluet orang yang sedang memainkan sendok garpunya untuk memotong steak makan malam mereka. Namun aku disini, di luar jendela. Selalu ada cerita dari balik jendela kaca, hanya saja lebih banyak rasa ketika aku melangkahkan kakiku di luar, di pinggir jalan, di tepian gang, dimanapun itu saat aku jauh dari jendela yang terhalang kaca.  
#Salatiga.Gang Monginsidi II. 4/01/2012.09.15 pm.

Monday, December 26, 2011

Mengikat Bayangan


Aku memiliki sebuah bayangan yang aneh. Ia selalu berkata bahwa ia ingin pergi ke suatu tempat, mencoba menjauh dariku. Sudah berulang kali aku berkata ia tidak akan pernah bisa pergi sendiri tanpa kubawa, ia selalu jengkel dengan jawabanku. Ia sangat berbeda dengan bayangan orang lain yang dengan sukarela menerima kenyataan bahwa sebuah bayangan selalu terikat di kaki sang pemilik. Bayanganku menghabiskan hari  - harinya untuk mencoba melepas ikatan di kakinya untuk mejauh dariku.
“Kamu itu bodoh!” kataku suatu hari padanya, “Kamu hanyalah sebuah bayangan, sesuatu yang terbentuk karena segurat cahaya menerpaku dan tak mampu menembus tubuhku sehingga sesisi gelap muncul di lantai menyerupai diriku. Kamu hanya sebatas itu!”
“Kamu yang kejam! Berani – beraninya kamu menahanku pergi!”
Aku kehabisan kata menghadapinya. Ia enar – benar tercipta untuk menjadi sosok yang sangat bodoh. Tolol! Aku putus asa mengaturnya. Aku membiarkannya berusaha pergi, tidak menggubris setiap usahanya untuk berhenti mengikutiku.
Suatu hari aku bertanya mengapa dia begitu ingin pergi, kemana ia akan berjalan, dan apa yang ia cari. Aku terkejut seolah dunia berhenti berputar dan waktuku untuk bernafas telah habis saat mendengar ia berkata,
“Kamu tidak mengerti. Aku tengah jatuh cinta.”
Sebuah bayangan bisa jatuh cinta? Aku betul – betul tidak mengerti. Sepertinya aku sedang berwisata ke negeri dongeng dimana hal tak masuk akal bisa saja terjadi. Aku mencoba mencerna kenyataan ini dan mulai bertanya kepada siapa ia jatuh cinta.
“Aku mengikutimu, aku tidak pernah sadar seseorang itu begitu menarik. Sampai suatu hari bayangannya menimpa tubuhku saat kalian duduk berdua di pinggir jalan, dan bayangannya tersenyum menyapaku.”
Aku masih menyimaknya berkata – kata.
“Tapi, kamu begitu kejam! Kenapa kamu menyuruhnya duduk di hadapanmu? Bayangannya begitu setia, ia pun mengikuti tuannya dan beralih ke belakang tuannya. Sebuah tempat dimana dia memudar dan bahkan aku tak dapat lagi menatapnya.”
“Itu bukan salahku. Kamulah yang bodoh! Semua bayangan seharusnya memang begitu.”
“Tidak ada sebuah hukum yang mengharuskan kami harus demikian!”
“Hukum alam tetap berlaku.”
“Kamu, bahkan lebih kejam dari yang kukira!”
“Jika kamu tahu, aku memang kejam dan begitu ingin membunuhmu, bayangan!”
“Bunuhlah, kamu hanya akan mati bersamaku.”
Kami terdiam.
“Mengapa kamu tak menghampirinya saat itu? Mungkin itu saat terakhir kamu bisa menemuinya,” bayanganku berkata lagi.
“Kapan?”
“Saat kamu melihatnya duduk di sebuah bangku merah, di belakang kaca pembatas ruangan. Kamu melihatnya dengan jelas, dan kamu hanya tersenyum saja tanpa menghampirinya.”
“Oh..itu bukan urusanmu!”
“Hey, bodoh! Kamu pasti tidak berani, ya? Dan kini kamu menyesalinya. Habislah kamu!”
Aku tersenyum kecut mengingat sesosok pemuda berkacamata yang mengenakan kemeja biru tua senja itu. Sedikit menyesal, tetapi lupakanlah. Ada saat dimana aku tak perlu bertindak bodoh. Siapa dia? Siapa aku? Sama sekali tidak ada hubungan untuk membentuk sebuah kata, menyesal.
Seperti sebuah bola kristal yang terlihat bulat sempurna dari kejauhan, sebenarnya memiliki seribu sudut tajam ketika didekati. Begitulah aku dan dia. Sial, hanya dua atau tiga sisi saja yang bisa bertemu tanpa harus pecah diantara bolanya dan bolaku. Tak peduli seberapa cantik ia, tetap saja ia tidak akan dapat berputar bersamaku.
Bayanganku masih ngotot ingin pergi menghampiri bayangan pemuda itu. Aku lelah menasehatinya setiap hari, aku juga sudah lelah memaki – maki kebodohannya. Aku berkata kepadanya,
“Kamu, tahu? Bayangannya sebenarnya sangat membencimu.”
Dia tidak pernah percaya. Aku habis akal. Cinta kadang – kadang bisa menjadi sangat kuat, ia mampu menelan logika dan merusak otak, termasuk jika cinta itu jatuh pada sebuah bayangan. Aku benar – benar tak mengerti.
“Hey, kejam! Kamu hanya takut aku jadi lebih bahagia dibanding kamu, kan? Kamu hanya tidak pernah mencintai seseorang sepenuh hati,” bayangan itu menyeringai kepadaku.
“Apa kamu lupa ingatan? Aku pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Hanya hati kadang tak bisa berhati – hati, tidak bisa ditebak. Hatinya. Hatiku juga. Belum saatnya aku bermain lagi dengan hatiku. Hampir aku memberi, tapi aku urungkan saja.”
“Karena kamu sudah tak punya hati, kan?” katanya tajam. Sinis.
“Karena aku tak pernah setengah hati. Perlu berpikir sebelum memberi hati.”
Bayanganku masih berusaha melepaskan ikatan di kakinya. Terakhir aku melihatnya berusaha memotong kakinya sendiri, tetapi semua sia – sia. Kakinya tak pernah bisa terluka, apalagi terpotong.
Ia terus saja bergerak, sampai suatu hari aku menjadi terganggu dan sangat marah. Aku membungkam mulutnya, dan mengikat tangannya sampai ia tak bisa bergerak. Katanya aku kejam, baiklah aku akan jadi kejam. Sekarang aku menghabiskan waktuku untuk berusaha membunuhnya. 

 Dhenok.P, #Purbalingga, 11.42 a.m, December 27, 2011

Kopi dan Kunang – Kunang


Aku suka kopi. Aku suka warnanya yang hitam pekat, tidak abu – abu, jelas, tidak setengah – setengah. Aku suka aromanya yang khas, harum, dan memberi sebuah ketenangan tiap kali kuhirup diantara uapnya yang melayang di udara, uap panasnya yang terlihat samar – samar, yang semakin indah saat cangkirnya ku taruh di bawah lampu temaram diantara suara musik yang terdengar halus dan santai selayaknya orang berbincang dengan nada. Aku suka ketika kafein hitam itu saat ia terasa murni, tanpa pemanis, sedikit pahit dengan ampas yang tersaring. Rasanya seperti berjalan sendiri di tepian jalan kota tua tanpa seorangpun mengganggu, tanpa perlu berpikir harus menyapa dan bertanya. Aku benar – benar jatuh cinta padanya.
Aku membawa sebuah cangkir putih ke teras depan rumahku. Masih gerimis, udara dingin menusuk, jalanan terlihat lengang dari balik pagar besi yang membentengi taman sederhana di hadapan teras panggung tempat aku duduk di atas kursi keramik. Uap dari cangkir itu mengenai wajahku. Aku menghirupnya, dan meminum sedikit kopi itu. Panas.
Mataku memandang sebatang pohon kelengkeng yang tidak terlalu besar di hadapanku. Kedua bolanya yang besar menemukan setitik cahaya kuning diantara daun – daun yang basah terterpa gerimis membawa aroma khas pedesaan di kala senja. Cahaya kuning itu begitu kecil dan terus bergerak. Kunang – kunang.
“Itu kukunya orang mati, loh!”
Aku mendengar celoteh seorang anak kecil dalam memori otakku yang terputar mundur. Seorang anak perempuan kecil tengah bermain bersamaku di pinggir sawah senja itu, di sebuah kompleks perumahan yang hanya beberapa blok dari rumah masa kecilku dulu.
Aku tersenyum. Menghirup uap kopi yang mulai menghangat di cangkir putih yang tangan kiriku genggam. Aku masih saja menyukai kunang – kunang. Ajaib sekali, serangga itu mengeluarkan cahaya dari tubuhnya. Indah. Aku terus mengagumi kunang – kunang itu. Aneh, ada seekor kunang – kunang mendadak muncul di halaman rumahku yang tidak terlalu dekat dengan sawah. Setahuku kunang – kunang itu selalu ada di sawah, diantara padi – padi yang mulai menguning dan entah dari mana datangnya, mungkin memang benar – benar kuku orang mati.
Aku meneguk kopiku sambil tersenyum memikirkanmu. Mungkin aku harus mati dulu untuk bisa menyentuh pipimu. Karena kamu tidak seperti kopi yang tajam, kamu nyata hanya saja tidak dapat aku sentuh apalagi aku hirup. Kamu memberiku ketenangan, hanya saja kamu tidak cukup hangat memberikan tanganmu padaku. Kamu memang berbeda dengan kopi, kamu kadang membuatku gugup dan terlalu banyak berkata – kata, sementara kopi membuatku banyak diam dan menikmatimu.
Ketika aku mati mungkin sebagian kuku tanganku akan terbang menjadi kunang – kunang. Ia akan terbang menemukanmu tertidur tengah malam, masuk perlahan dan hinggap di pipimu. Begitulah caraku menyentuhmu.
Ia akan terbang di atas kepalamu dan mendengarkanmu bernyanyi. Melantunkan kata – kata yang kau nyanyikan bersama petikan senar – senar gitar yang dengan setia kau peluk. Menunggumu sampai kau tertidur dan kembali hinggap di pipimu, tanpa kata, tanpa suara, ia mengepakan sayap kecilnya perlahan dan meredupkan cahayanya agar matamu tak terbuka. Ia takut kau terbangun dan menangkapmu saat kau terjaga. Hanya sesaat ia akan hinggap di pipimu, begitulah aku menyentuh wajahmu lembut dan menatapmu yang tengah tertidur.
Terus demikian sampai suatu hari kukumu yang indahpun akan menjadi kunang – kunang.
Aku tersenyum. Bodoh!
Aku meneguk kopiku dan meminumnya sampai habis. 

Dhenok. P, #Purbalingga, 06.45 pm, December 26, 2011

Friday, December 16, 2011

INSOMNIA


Nggak masuk akal, di kamar yang kayak gini aku nggak bisa tidur :p

Salah satu hal yang paling aku benci adalah INSOMNIA, khususnya buat seorang penikmat tidur sejati kayak aku. Ini barang satu bisa bikin sakit kepala, sakit hati, sakit punggung, bahkan sakit jantung! Dan nggak tahu entah berkaitan dari mana, kalau nggak tidur malam rasanya juga nggak nafsu makan besok harinya..parah! Bisa tambah kurus aku, nanti dikira penderita gizi buruk. Mending ada yang nyumbang, malah semua temenku pada girang dapet bahan ledekan baru!
Akhirnya setelah empat hari hampir nggak tidur, aku putus asa. Keluar kamar kost, terus ambil pisau, buka kulkas, nyalain kompor dan bikin susu. Pisaunya dipakai buat ngaduk karena semua sendok kotor, dingin banget mau nyuci lewat tengah malem gini. Yang ada aku malah jadi kepikiran film horror yang judulnya 12 a.m, kalau setannya nongol waktu aku nyuci gimana? Siapa yang tanggung jawab?
Masih nggak bisa tidur aku memutuskan untuk nonton TV. Waktu mau nonton ternyata kursi yang biasa buat duduk masih ketinggalan di balkon. Hehehe…lupa, tadi siang dipakai buat sun bathing! Aku buka pintu…ciiiittt…suaranya berdecit lirih, terus pelan – pelan ngelepas kursi plastik warna putih yang sudah tertumpuk. Susah! Sudah, deh, nyerah! Nggak perlu pelan – pelan, kalau anak kost pada bangun, ya sukurin aja! :p
Kursi itu aku bawa ke depan TV, aku pencet tombol merah di remote buat nyalain TV dan aku baru inget kalau TV ini agak rewel. Jurus pukulan sekuat tenaga aku arahkan ke atas TV sampai bikin Nona (temen kost) bangun. Terus tanya, “Kamu lagi ngapain?”
Aku manyum aja sambil bilang, nonton TV dan nggak bisa tidur. Eh, dia malah ngakak, katanya tampangku lucu. Nggak ngerti, deh, apanya yang lucu dari tampang penuh penderitaanku ini. Ngeselin! Mana TVnya buram lagi, gambarnya jadi warna ungu semua. Karuan aku suka ungu! Tapi nggak segitunya juga kaleeeee…………
Kesel setengah hidup pokoknya, padahal sudah hampir dua jam lalu aku berjuang buat tidur. Terus waktu lagi mulai ngantuk ada SMS dari Simon (temen gereja, yang lucu dan suka berburu) bilang: “Ayo bobo!” jiah, SMS ini malah bikin melek. Sudah nggak diharapkan (aku kan ngarep orang laen yang SMS), bikin HP bunyi lagi. :’(
Aku balas saja, aku nggak bisa bobo. Terus dia malah SMS lagi nyuruh aku mbayangin besok pagi bangun jam 5 terus jalan – jalan beli bubur ayam di sekitar Jensud. Sugesti apaan ni? Mentang – mentang anak psikologi seenaknya punya cara buat memotivasiku tidur cepet, yang ada aku malah jadi laper! Padahal nggak punya cadangan makanan di kost, pintu gerbang sudah dikunci, satu – satunya buah yang ada di kulkas cuma lemon.
Aku mencoba tenang, terus tiduran di kamar Nona, dia nyuruh aku baca buku biar ngantuk. Haduh, nggak deh! Aku sudah berpengalaman, dulu waktu aku nggak bisa tidur aku baca The Da Vinci Code yang ada bukan ngantuk, tapi otak jadi muter, mata melek dan ngabisin ratusan lembar buku itu sampai subuh dan besoknya hampir ketiduran waktu tes jam 9 pagi. Dasar ni si Nona, makin girang dan malah nyuruh aku baca buku yang lucu. Denger kata lucu aku langsung kebayang buku Marmut Merah Jambunya Raditya Dika, jadi ngakak dan tambah melek! Sial banget! Terus tahu – tahu Nona ngakak sambil pegang buku tipis warna ijo dengan tulisan How to Develop a Good Portfolio di atasnya. Enek banget liat buku yang bikin aku menderita dua minggu terakhir ini!
Aku tiduran di kamar Nona sambil cerita – cerita nggak penting, biasalah girl talk! Hehehe…malah tambah ngakak! Akhirnya aku memutuskan cara lama : Menghitung Domba biar ngantuk. Sial banget, ternyata sprei Nona malah bergambar domba, Shaun Sheep, aku malah geli sendiri mbayangin domba di seprei bergerak lompat – lompat nggak karuan. Serem banget! Lebih serem dari suster ngesot apa lagi pocong!
Aha! Ada lampu di atas kepalaku nyala…wahahaha, sekarang aku bisa hemat listrik, minimal lampu di kepalaku ini bisa dipakai. Lah, kalau mandi gimana? Bise njeblug kena air, dong? Jadi segera aku copot lampu yang nongol di kepalaku, terus aku simpen di laci. Lumayan, kalau lampu kamar mati bisa dipakai. Kalau ada maling bisa juga dipakai buat ngelemparin.
Aku tiba – tiba ingat Itok (temen, belum lama kenal, tapi asyik, nyambung, yang paling penting dia pakai kaca mata) yang kadang – kadang aku panggil Itog itu. Biasanya kan dia bobo malam, terus aku coba cara ajaib yang malam kemarin dia kasih tahu ke aku: pejamkan mata tarik nafas dalam, tahan beberapa detik, terus dikeluarkan pelan – pelan biar relaks. Moga – moga bisa bobo. :)
Waktu lagi nyoba aku malah lupa, berapa detik harus nahan napas. Aku tahan napas selama mungkin, anggap saja lagi menyelam di Samudra Pasifik. Hampir semenit, udah nggak kuat. Nyerah, deh, aku megap – megap berharap nggak tenggelam di Samudra Pasifik, kalaupun tenggelam semoga saja ada dua ekor penyu yang membawaku kembali ke darat kayak di Pirates of the Caribbean itu. Nggak kuat, aku nyerah. Aku melambaikan tangan tanda sudah nggak tahan, bener – bener persis uji nyali. Gorden gerak – gerak sendiri dan ada musik tembang kenangan sayup – sayup terdengar.
Aku SMS Itok, tanya dia sudah bobo apa belum (so sweet :p) sambil protes karena resepnya nggak manjur. Dengan kalimat akhir, kalau sudah bobo bangun dong! Kesel banget, kayaknya Itok mau membunuhku pelan – pelan dengan ngasih tips itu. Nggak mungkin, kan kalau aku yang bego waktu praktek? Kejam! Aku memutuskan untuk ngambek sama dia, tapi maunya tetep temenan. Kan aku yang ngambek, jadi biar kayak di FTV gitu. Aku ngambek, dianya cuek, terus besok harinya aku lewat di depan dia dengan cuek dan setelah satu meter di hadapannya aku menatap matanya tajam, agak jinjit (entah aku yang pendek, apa dia yang tinggi badannya normal) terus menatap matanya lebih tajam, mendekat dan narik kelopak mata kananku pakai jari dan melet…weeeeeekkkkk :p (ini FTV mana, ya?)
Nona, malah ngakak! Dan ngatain aku gila dengan mukanya yang sudah berantakan, mata kanan kiri beda, hidungnya pindah tempat, rambutnya jadi kribo, bibirnya pandah di jidat, dan pipi kanan kiri yang kebalik. Aduh, horror banget! Kayaknya aura kamarnya nggak bagus deh, jadi aku paksa dia bobo di kamarku yang beraroma khas melati, dan hawa dingin menusuk (dukun).
Oh, iya…hampir lupa! Nona, punya tips pengantar tidur yang dia dapat waktu nonton BBC: jalan mondar – mandir di kamar, biar capek terus ngantuk. Lah, kalau cuma biar capek mending beres – beres, ngepel, nyetrika, benerin genteng, atau ngelepasin keramik kamar mandi! Nggak beres, deh itu tips satu.
Karena putus asa aku memutuskan begadang dengan sukarela dan nulis cerita gila ini.
TAMAT
jam 2.06 am

Thursday, December 15, 2011

Aku Ini



Aku memang punya sebuah cita – cita yang paling tidak menerutku itu cukup tinggi. Aku bukan seorang perempuan yang ingin menjadi “penjaga rumah”, bukan karena aku tidak suka, hanya saja aku mudah bosan tanpa adanya suatu aktifitas yang menantang. Aku tidak ingin mengejar karir, aku hanya ingin apa yang aku punya berkembang dengan baik. Itu sudah cukup.
Mungkin aku terlihat bersamangat dan ambisius, itu hanya karena aku begitu tertarik untuk mengejar mimpiku dan belum ada hati yang tertambat dalam hidupku. Mungkin juga karena aku dibesarkan oleh seorang ibu yang menurutku begitu pintar, sibuk, tetapi tidak membiarkanku bermain sendiri dan kesepian, sehingga aku tampak menyukai kesibukan.
Beberapa orang mulai berkata, “Kamu terlalu sulit untuk dimiliki.” Dan aku hanya tersenyum. Aku memang bukan sesuatu untuk dimiliki, aku ini seseorang yang lebih suka mempunyai seseorang lain yang bisa didukung dan mendukung. Karena saat itu, orang itu akan melihat bagaimana aku bisa berdiri di sampingnya, kadang pun di belakangnya. Aku tidak tahu sejauh mana aku bisa jadi penolong, yang aku tahu seorang penolong itu harus cukup kuat untuk berdiri sendiri karena suatu saat teman hidupnya membutuhkan tangannya untuk menuntun, atau paling tidak menemaninya berjalan.
Kadang aku begitu takut untuk member hati. Hatiku ini aneh, sedikit gila. Ketika kuberikan, dia akan seutuhnya aku berikan, tapi ketika tidak dipelihara dia bisa saja menghilang. Sungguh mengerikan!
Apapun itu, aku tidak perlu ditaklukan, karena itu tidak mungkin. Aku akan member hatiku tanpa perlu ditaklukan, kadang aku hanya ingin sedikit melihat seberapa jauh seseorang menginginkannya dan mencoba memakai logika dalam menjatuhkan hatiku.
Sebuah cita – citaku tak mengapa jika tidak sepenuhnya tercapai, aku tahu aku beruntung jika Tuhan menempatkan aku di tempat yang aku inginkan, tapi aku pun ingin membuat tempat dimana Tuhan membuang aku beruntung karena mendapatkan aku di situ.
Satu mimpi yang harus tercapai: I wanna be a good mother and give my kids a hero daddy

* ???


Di postingan ini aku agak bingung mau ngomongin apa? #galau
Tapi, kayaknya lagi kepengin ngomongin cinta. Satu hal yang membuat hidup kita lebih berwarna, lebih gila, dan kadang agak lebay. Semua itu sudah terbukti, ya, pokoknya akhir – akhir ini aku lagi sering denger orang curhat; ada yang jatuh cinta, patah hati, terpesona, sampai yang ngebet kepengin banget jatuh cinta. Pokonya maksa banget! Lho? Kalau aku sendiri? Maaf, ya..aku, sih, kalem aja…santai…kalaupun jatuh cinta, ya sudah…pasrah…berserah… :p
Satu hal yang dari dulu nggak pernah bisa aku ngerti kenapa ada ungkapan JATUH CINTA? Kenapa nggak TERBANG cinta, kesandung cinta, terjebak cinta, tidur cinta..makan cinta…apa saja yang penting jangan jatuh…di bahasa Inggris juga begitu, FALLING in love…kenapa nggak FLYING in love, DYING in love atau PLAYING in love (nakal!)..apa saja yang penting jangan FALLING…
Ya, mungkin kayak lagunya Ipang yang judulnya Cinta Baru itu. Katanya cinta datang tiba – tiba nggak perlu pakai rencana sama kayak orang jatuh. Nggak bisa direncakan, mau jatuh di tikungan dengan gaya jungkir balik biar keren apa mau jatuh dari tangga sambil bawa setumpuk buku berat biar kelihatan seksi kaya di TV gitu. Hahaha… bisa juga karena jatuh itu sakiiiiiiiiiiitttttttttt…ngaku aja buat yang pernah patah hati apa lagi kalau sampai langganan, patah hati tiap Januari biar ada lagunya..enak nggak, tuh? Ya, kira – kira rasanya kayak setengah mati. Mati yang setengah – setengah, tapi nggak apa – apa semua itu tetap manis, kok! Apa, sih, yang nggak buat kamu, bub? :-*
Ada banyak hal bodoh yang manis, misalnya kayak di video klip korea (aku lupa judulnya). Si cowok dengan semangat penuh (bukan 45 loh, kan Korea!) datang menjemput pacarnya yang nunggu di depan toko. Hujan – hujan. Pasti dingin. Aku pikir si Cowok itu pinter banget, dia bawa dua payung loh. Bener, deh, di klip itu hujan deras banget kalau satu payung berdua bakal tetap kehujanan nanti bisa flu, malah batal shooting kan repot! Lah, ceweknya malah ngambek payungnya dibuang ke tempat sampah, aduh, sayang banget pokoknya! Untung warnanya pink, jadi aku nggak terlalu nyesel. : ) terus cowoknya ngejar – ngejar gitu, basah juga, deh akhirnya…lucu deh…tapi manis juga.
Ada lagi yang nyanyi – nyanyi katanya kalau jatuh cinta dunia terasa melayang bahkan serasa matahari mendekat dan memeluknya.  Aduh! Serem banget, deh! Aku jadi trauma mendalam, cuma denger lagu itu saja sudah bikin imajinasi mengerikan kayak di film Amrmagedon atau film – film hari kiamat yang mataharinya datang ke bumi. Oh no!!! Nggak siap mental pokonya! Kalau jatuh cinta nanti kamu bisa mati kebakar matahari, kulit gosong, rambut keriting…masih untung kalau curly nya bagus, kaya di salon – salon gitu, kan bisa gaya! Ini pasti keriting kayak di film – film yang ada orang kesetrum sampai gosong. Hmm…kayaknya aku kebanyakan nonton fil, deh!
Banyak juga cowok yang grogi waktu nembak cewek, jangankan nembak mau kenalan aja mesti berdoa puasa, mandi kembang tujuh rupa (biar wangi), parahnya persiapan itu sama sekali nggak ngefek karena waktu beraksi dia gemetaran, tangan dingin, lutut lemas, muka pucat, asam lambung naik. Serem banget, kayak mau dihukum gantung! Heran, deh! Emang cewek tu serem banget, ya, sampai bisa bikin gitu? Dahsyat abis!!!! Buat cowok – cowok, boleh tenang! Percaya nggak percaya cewek itu sebenarnya juga grogi, kayak orang nahan pipis, dan meringis – meringis nggak jelas (pengakuan dosa) hanya saja pinter jaim. Apa lagi kalau udah diajak kenalan dan menjawab, “Maaf kamu siapa, ya?” wkwkwkwk Sukurin, lo!
Nah, kalau kamu mau nembak cewek gimana carany? Ini ada tips dari dosenku tercinta:
Cowok             : (datang ke ceweknya dengan cool dan santai, cuek saja seolah – olah mau beli makan di warung langganan) “I love you!”
Cewek             : (pasti syok)
Cowok             : “Any question? Call me!” (terus pergi kayak jagoan – jagoan di film ultraman, yang berjalan lurus dengan cool tanpa menoleh monster di belakangnya yang tumbang.
Buat kamu yang mau praktek boleh banget, tapi sangat disarankan buat ngasih no HP sebelumny. Paling nggak kalian harus deket dulu, ya, pura – pura deket saja kalau nggak deket – deket juga. Hajar, bro!
Ada lagi yang lucu, waktu itu ada sesosok laki – laki yang mengaku tidak merasa jatuh cinta, tapi dia nembak seorang cewek (ya, iyalah…dia kan nggak homo!) dan membuat pengakuan dosa, “Aku nembak dia tu NGGAK SENGAJA!” dengan penuh penyesalan dan ratap tangis kayak ditinggal mati sama anjing kesayangan. Gubrak!!!! Bumi secara gonjang – ganjing, bulan menimpa bumi ketilem di Samudera Pasifik dan matahari berhenti bersinar saking syoknya mendengar pengakuan itu. Aku nggak bisa mbayangin, deh (-.-!). Ya, mungkin aku termasuk golongan orang yang logikanya agak macet jadi nggak bisa memproses pengakuan dosa itu sebagai hal yang masuk akal, yang ada aku cuma nahan diri biar nggak ngakak. Coba bayangin:
Situasi            : mereka berdua malam itu tengah berada di sebuah tempat yang remang – remang menjelang tengah malam (jangan mikir macem – macem! Mereka Cuma duduk saja, kok!)
Cowok             : “Ih, kamu lucu banget, deh!”
Cewek             : “Kamu juga, loh!”
Cowok             : “Kok, bisa?”
Cewek             : “Gedhe! Kayak beruang bengkak terus kedinginan di kutub utara, habis itu kepanggang sampai gosong. Gemes, deh! (ceweknya gila!)
Cowok             : “Hahahahaha..bisa saja! (lagi terbawa suasana suka, jadi nggak nyadar kalau dihina). Eh, kamu mau nggak jadi pacarku?”
Cewek             : “Wow? Ya, sudah boleh, deh! (pasrah, inonsen)
Cowok             : (tiba – tiba nyesel, ngapain nembak dia) “Aduh, maaf aku nggak sengaja bilang gitu. Mungkin aku mabuk gara – gara minum karbol.” (bingung)
Cewek             : “Kamu gimana, sih? Kamu gila, ya?!?!?!?” (mata berkaca – kaca, makin lama makin lebar dan tebal. Ayo buruan ambil buat bikin aquarium, lumayan, tuh!)
Cowok             : “Maaf, kamu boleh tampar aku..injak – injak saja..tendang..hajar…apapun itu, tapi maaf, ya, aku nggak sengaja!” (sembah sujud, guling – gulingan, jungkir balik, jedotin kepala ke bangku, terus minum karbol yang tadi belum habis, sambil berharap si cewek bilang: ya, sudah. Ngaak apa – apa, jangan nangis lagi, ya..cup…cup…cup…)
Cewek             : %&*(&)(_*_))^%^%&^*T&#%^^!!!$&*():>:KHYg&8!! (kehabisan kata – kata, akhirnya nampar si cowok, nginjek – nginjek, tending hajar, dapet bonus juga ketika si cewek ngeluarin kaca dari matanya yang berkaca – kaca terus………………untung nggak tega karena ingat kaca jendela rumahnya pecah dan berkata…) “Kamu punya kertas koran, nggak? Aku mau mbungkus kaca yang NGGAK SENGAJA (dengan sinis, dingin, tanpa perasaan dan ekspresi) muncul dari mataku.”
Cowok             : __/\--/\___/\---------___---/\----_____________________________ (Rest In BROKEN)

Satu – satunya yang terlintas di pikiranku, ya cerita aneh di atas itu. Mungkin kapan – kapan aku bisa praktek nggak sengaja nembak cowok atau nggak sengaja nerima cowok kalau aku sudah GILA…alhamdulilah, ya..(ala Syahrini) gue masih waras!
Tiba – tiba aku inget kisah cinta lain. Kali ini agak manis, pakai gula asli, jadi nggak bakal sakit tenggorokan. Waktu itu di sebuah klub nyanyi (ada, ya?!?!?! Anggap saja ada, tempat sebenarnya disamarkan) ada seorang anggota baru yang kebetulan cewek yang agak cantik, agak pintar, agak lucu, agak kecil, agak imut…agaknya cewek itu agak semua. Terus seorang pria tersohor di klub nyanyi itu yang cukup mempesona, cukup muda, cukup manis, cukup pelit (nggak penting), pokoknya serba berkecukupan yang berkenalan dengan si cewek yang serba agak itu, tiba – tiba mereka sudah jadi teman di Face Book. Tadinya si cowok mancing minta no HP dengan ngasih HPnya yang canggih dan layarnya bisa dipencet – pencet ke cewek yang agak – agak tadi, “Tolong tulis no HP kamu, ya!” dengan harapan si cewek agak itu bakal minta balik no HPnya dengan cara miscall atau SMS, tapi takdir berkata lain, cewek itu nggak begitu bisa pakai Hp yang kata orang Jawa namanya ndemek screen.
Nggak habis akal, si cowok nge-chat cewek itu lewat FB (anak muda jaman sekarang gitu, ya?):
Cowok             : “Hai!” J
Cewek             : “Hai…” ^^
Cowok             : “Di situ ujan, nggak?”
Cewek             : “Udah brenti. Np?”
Cowok             : “Dingin nggak? Nggak usah mandi, aja…” (garing)
Cewek             : “Telat, udah mandi, keramas, luluran juga. (bohong banget! Biasanya nggak pernah mandi)
Cowok             : “Lagi apa?”
Cewek             : “Chatting.” (udah tahu pake nanya!)
Cowok             : “Nggak ngapa – ngapain?”
Cewek             : “Nyanyi.”
Cowok             : “Lagu?”
Cewek             : “Syalalalalalalalala…lalalalalalala…lalalala…”
Cowok             : “Sydudududududu…syubidam..bidam…”
Cewek             : “Apaan, tuh?”
Cowok             : “Lagu yang sama, babe!” (udah sayang – sayangan)
Cewek             : “Kok, kedengerannya beda?” (chatting bisa denger, ya? -.-a )
Cowok             : “Aku arrangement ulang.” (info tambahan: dia pinter arrangement lagu, loh!)
Cewek             : “Oh, maklum not nya nggak kliatan.”
Cowok             : “Masa, sih?!? not nya kan ada di sini.”
Cewek             : “Mana?”
Cowok             : “Di dalam hati kita.”
Cewek             : (-_-!)
Cowok             : (stay cool dan cuek) “It’s beating like a crazy little thing called love” J
Cewek             : “Mas nya, aku mau makan dulu, ya?” (pura – pura laper)
Cowok             : “Alrite babe!”

Pokoknya gitu, baru kenal sudah begitu. Buat aku, sih, sah – sah saja. Nggak melanggar undang – undang juga, kok! Cuma aku jadi mbayangin kalau ada not di hatiku, aduh mau nyanyi harus operasi dulu buat ambil partitur di dalam hati. Repot, mahal, dan berbahaya. Terus kalau cinta itu berdetak kayak jantung dokter – dokter pasti pada repot. Bayangin orang yang jatuh cinta itu sakit dan harus ke dokter, bakal susah mbedain mana detak jantung mana detak cinta…cieeee…… ^^
Haduh, banyak banget cerita cinta koleksiku. Kapan – kapan aku post lagi, deh! Pokoknya seru, manis, asam, asin, romantis dan mengharu biru. Kalau cerita cintaku? Itu, sih, yang paling manis. Kalem aja..santai, karena aku hanya ingin mencintai seseorang dengan sederhana, nggak peduli masa lalu karena aku akan hidup dengannya saat ini dan besok bukan kembali ke masa lalu, bukan mau sok manis, tapi karena itu mustahil (kecuali kalau aku jatuh cinta sama Doraemon) , dan mencintainya tanpa adanya alasan. : ) cieeeee……
Tapi boleh juga kalau aku cinta sama seseorang yang agak manis, minimal bisa nyanyi Indonesia Raya dengan penuh perasaan terus cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, yang jelas syarat mutlaknya dia lelaki asli yang manis dan bersahaja. #gubrak