turn the music on ! : )

Thursday, December 1, 2011

Catatan Akhir Semester #syndrome


Sebelum Seminar

Catatan: tunggu, ya foto – fotonya belum sempet di upload…hehe


Ya ampun…akhirnya sempet juga ni mulai ngisi blog-ku tercinta yang sudah (sangat) lama terlupakan!
Oke, jadi inti cerita kenapa sampai begitu lama aku nggak sempet mengutak – atik folder unguku ini adalah (jeng..jeng…jeng…terengtengteng….) karena aku ikut FBS _ LTC 5th International Seminar (yang judulnya sudah lupa! Pokonya keren, bahasanya susah. Kamus saja nggak sanggup terjemahin :p ) ditambah lagi setumpuk kertas fotokopian buram berisi tulisan yang menjelaskan step – step cara bikin portfolio,ngadain research, nulis berlembar – lembar essay dengan minimal empat plus satu reflection journal berdasarkan artikel yang nggak terbatas jumlahnya, ditambah lagi setiap mata kuliah itu punya final project. Okay, deh..mereka itu jalan masing – masing, tapi masalahnya batas akhir pengumpulannya bareng! Ironisnya semua itu benar – benar harus dikerjakan. Tunggu dulu..tunggu dulu…nggak juga, sih! Fakultasku cukup demokratis, boleh juga kalau mahasiswanya nggak ngerjain PR…hore! (Pura – pura nggak tahu kalo PR itu mempengaruhi jenis alfabet yang muncul di transkrip nilai besok, ayo kita nari – nari kayak di Hawai saja…hulalalala…hulalalalala).

Hmm..jadi sebenarnya aku mau ngomongin apa? =.=””””
Memang aku ini tipikal mahasiswa jaman sekarang yang kreatif dan inovatif, otaknya penuh macem – macem. Hahahaha…. (Kata halus untuk NGGAK FOKUS!)
Jadi pada intinya aku kepingin  sedikit cerita tentang seminar internasional kemarin.
Dari awal semester kemarin aku sudah berencana mau ikut seminar seharga Rp 200.000,00 itu, walaupun hati masih bimbang. Gimana nggak? Itu seminar mahal banget! 200.000 itu cukup buat makan bakso sama es teh sampai muntah – muntah dan aku harus nukerin duit itu sama selembar kertas bukti pendaftaran di administration office fakultas. Ya, memang, sih, di kertas itu masih ada tulisan 200.000 (kalau nggak salah), tapi kertas itu cuma bisa dipakai buat daftar ulang waktu mau masuk balairung utama (BU), yang paling penting NGGAK bisa buat beli bakso dan es teh. Yah, mau gimana lagi aku butuh materi dari seminar itu, walaupun belum tentu juga sampai dalam BU aku bisa paham apa yang diomongin sama expert di atas podium yang kelihatan keren itu. Habis, mereka pakai bahasa dewa sementara aku hanya seorang mahasiswa hina yang terlunta – lunta dan nggak keren sama sekali (alhamdulilah ya, aku sadar :’)…terharu sendiri).

Dengan pura – pura semangat hari itu, yang aku sudah nggak inget tanggal berapa atau hari apa, habis kuliah aku naik lift ke lantai 5 gedung F Universitas Kristen Satya Wacana diiring lagu Perfectly Lonel…loh loh? Sudah nggak perlu dipikir, waktu itu HPku bunyi dan ring tone nya lagu John Mayer yang judulnya Perfectly Lonely. Sampai di lantai lima aku langsung ke pojok deket tangga, ngeluarin dompet dan pesen macaroni scootel di usaha dana yang buka stand. Itu harganya sepuluh ribu, tapi enak, loh! (malah promo =.=””). Terus baru ke administration office (bahasa Indonesianya TU, tahu nggak?) dan bilang sama mbak – mbak manis yang lagi ngetik – ngetik kalau aku mau daftar seminar dan aku dapat gulungan kertas kayak arisan yang tulisannya “Maaf Anda belum beruntung, kursi seminar sudah habis”. Dalam hati aku bersorak gembira, “Hore bisa makan bakso sampe muntah – muntah pakai duit 200.00 ini!” tapi mukaku diseting lesu penuh kekecewaan sambil tanya, kalau yang bayarnya 50.000 masih atau nggak (yang ini duduk di balkon, boleh bawa kursi kalau mau), dan masih ada. Okey, aku daftar yang plenary saja, tapi besok, deh…hehehehehe
Waktu lagi jalan pulang aku lewat ruangan seorang mas – mas yang sebenarnya dosen sekaligus wali studiku dan munculah secercah harapan. Ada selembar kertas bersinar terang di depan ruangan itu, kertas itu ditempel pake lem (aku sudah cek) di kaca, di atas foto – foto abstrak nggak jelas dan disana tertulis, “Cari Jodoh” . Haduh, ngelamar nggak , ya? Bingung juga karena dia bukan tipeku. Hmm…by the way, aku ngomong apa lagi, ya? >.<

Nggak begitu juga, kok! Itu kertas pengumuman lowongan jadi LO (liaison officer) yang membuatku otakku langsung jalan dan berpikir, “Woah, bisa ikut seminar gratis kalau daftar jadi LO. Tugasnya paling enteng!” sombongku makin menjadi. Hahahahaha…
Singkat cerita aku melamar jadi LO akomodasi dan transportasi dengan pertimbangan bisa ikut seminar gratis dan tugas LO aktras itu cuma nganter – jemput segala sesuatu yang perlu diantar – jemput jadi aku bisa ikut seminar plus..plus…dan pada akhirnya aku keterima. Aku gitu, loh! (padahal, sama sekali nggak ngebanggain..ckckckck)

The “D” Day..yeah!!!
Akhirnya sampailah aku pada hari kerja pertamaku. Hore! Girang banget rasanya, hari minggu kerjaanku datang ke hotel berbintang (bukan masjid , loh!) menemui seorang pembicara ganteng asal Inggris yang punya nama belakang kayak orang Italia itu…Mario Saraceni.
Eh, mendadak ada SMS dari mas dosen yang jadi bosku di seminar ini yang intinya bilang tugasku datang jam11 diundur jadi jam1 karena pembicara itu telat. Ok, nggak apa – apa. Malah punya waktu buat makan, dandan dulu, ke salon, cream bath, facial, ngerjain PR, ngerjain orang…ya, pokoknya banyak. Jadi dengan penuh semangat karena kelaparan aku nongkrong di Food court Diponegoro, depan gereja Katolik Santa Paulus Miki, Salatiga sama Nona, teman kostku. Makan bakso dan minum es teh pake duit 200.000 itu, tapi tenang saja nggak aku habiskan, kok, jadi nggak ada acara muntah – muntah. Kita berdua duduk hampir dua jam dan saling mengkotbahi satu sama lain, mulai cerita makanan, pertumbuhan anak, dan masalah rumah tangga lainnya. Mendadak ada SMS lagi di HPku, yang intinya (bosen aku sama kata “intinya”) bilang bapak pembicara yang ganteng itu tidak ditemukan di Jogja Airport (sorry, lagi – lagi lupa namanya…hehe :p) dan diperkirakan dia ngeblas sendiri ke Salatiga, jadi aku harus ngecek ke hotel jam11 kalau – kalau dia nongol. Jiah, itu SMS masuk jam 10.45! Oke, oke, dengan kecepatan penuh aku balik ke kost, ga perlu ganti baju, bajunya sudah bagus, terus mbenerin kunciran rambut dan langsung ke Grand Wahid Hotel.

Sampai hotel aku duduk di kursi yang ada di lobi, menikmati pemandangan resepsi kawinan orang di ballroom sebelah, minimal bisa liat kedua mempelai masuk lewat depan resepsionis. Melihat mempelai wanita yang cantik aku langsung kebayang, seandainya ada bunga di meja depan sofa yang aku duduki pasti aku langsung timpuk mempelai wanita itu pakai bunga. Kata orang kalau kita melempari mempelai wanita pakai bunga kita bisa cepet kawin, loh? Loh?!?!?!?
Setelah dua jam menunggu dan setengah buku yang aku bawa terbaca, HPku yang sudah low battery bunyi. Eh, ada SMS masuk,

“Dhenok, keberadaan Mario tidak terlacak. Kamu pulang sj.
So sorry, kamu jadi terombang – ambing.”

Woah, aku langsung berasa naik kapal pesiar yang nabrak es. #terombang-ambing.
Lalu pulang sebelum kapal pesiar yang aku tumpangi tenggelam, lalu menjalani hidup sebagaimana mahasiswa normal yang punya waktu guling – gulingan di kamar sambil mesen makan siang via delivery service warung makan Bu Endang. Menunya paket ayam gepuk. Enak banget, loh! Sembari SMS sana – sini cari tahu keberadaan pembicara tercinta sebagai bentuk menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab, hehe.
Hebatnya, temanku, namanya Benny, ngasih kabar yang menyebutkan bahwa Mario Saraceni telah berada di Surabaya. Nah loh? Padahal kan pesawatnya mendarat di Jogja. Kacau semua! Yang penting aku sudah menikmati makan siangku yang enak. Hahahaha

Hari seminar pun tiba, jatuh dari langit menimpa BU kampusku.  Semua berjalan sesuai rencana, kok! Tinggal ikut jadwal saja, sementara aku pura – pura sibuk jalan kesana – kemari di sela – sela kesibukan yang sebenarnya; nganter – jemput pembicara. Terus mandi dan ganti baju (dandan juga) dalam waktu empat puluh menit, setelah itu balik lagi ke BU dengan pembicara yang sudah dijemput sama dosenku, yah, tinggal ngurusin angkot untuk nganter balik peserta seminar (yang mau nebeng) ke hotel. Haduh, bagian ini ga keren sama sekali.

Malam itu acaranya Cultural Night, hmm..ini enak banget! Tinggal dateng, duduk, numpang makan malam gratis dengan menu yang enak – enak sambil nonton pertunjukan. Syukur banget aku jadi LO, jadi nggak pakai bayar. Hahahahaha…puas banget…


Me vs Sopir Angkot (nggak keren blas!!!!)
Di tengah – tengah acara aku sama Gloria (teman LO yang lain lagi) sedang asyik nari Sajojo dengn penuh antusias sampai kayak orang autis, Wimbo (nah ini bos LO alias coordinator kita, satu level di bawah Bapak Buah, Pak dosen tertjinta) minta aku dan Gloria megang kertas masing – masing dua lembar, yang aku pegang bertuliskan “Hotel Le Beringin”dan “Guest House”. Ya, sudah tinggal aku pegang di depan dengan dua tangan! Berasa kayak cewek – cewek yang nawarin vila tangah malam di pegunungan (-_-!).
Iseng – iseng aku tawarin ibu purek IV (kalau nggak salah) yang juga dosenku.

“Ayo, ibu, mau ke sini apa ke sini?” sambil nujukin kertas itu satu – satu.
Dan si Ibu menjawab, “Yang di tengah boleh?” sambil ketawa – ketawa.
“Ooh…maaf ini inventaris pribadi, Bu!”

Busyet, dah ni ibu – ibu bercandaannya bikin syok. Ternyata kalau malam dan nggak lagi ngajar kelakuannya kayak begitu. Hiiiihhhhh…ambil kelasnya, ah! Hahaha.

Aku sama Gloria sedang menghayati tugas hina itu, dan sopir – sopir angkot itu sudah nggak sabar nunggu, main gas saja mereka. Ngeselin! Padahal kan kita sudah bayar dengan harga yang ditawar habis sampai 20.000 per angkot, kurang apa coba? Huh, tadi aku denger juga kalau Wimbo habis mereka keroyokin gara – gara ada satu sopir profokator yang bilang dia dibayar 25.000 (bohong banget! Mana mau kita naikin bayaran walau cuma 5.000!) tiga sopir angkot yang lain jadi liar. Menggeliat, mencak – mencak, demo pakai kertas – kertas bertuliskan “WE WANT 5.000 MORE!”. Bener – bener nggak dewasa. Solusi tepatnya aku pura – pura nggak dengar dan membiarkan Wimbo menenangkan sopir – sopir itu. Aku kan cewek….hahaha (gender bias neh!).

Namun, sepertinya Tuhan nggak rela kalau cuma Wimbo yang kena amuk masa. Jadi waktu itu sopir angkot yang sudah nggak sabar langsung bentak – bentak aku, suruh cepet. Katanya sudah malam, keburu mau mangkal di perempatan, mau dandan dulu, make up itu nggak gampang! Mereka bentak – bentak liar tak terkendali. Wah, sebenarnya aku sudah emosi buta, pangen marah – marah! Heh, aku lebih galak, tahu Pak! Tapi demi harga diri aku bilang baik – baik suruh mereka tunggu sebentar.
Gloria pun mengeluarkan inisiatif cerdasnya! Berdiri pegang kertas yang ada tulisannya nama hotel itu di depan angkot. Kalau kayak begitu sopir angkot yang mulai menggila dan angkot yang memanas kan nggak bisa jalan, memang cerdas Gloria. Kecuali waktu aku denger sopir angkot itu mencet klakson keras – keras, pandanganku tentang betapa cerdasnya solusi berdiri di depan angkot langsung beruban. Hahaha…sakit nggak, tuh, kupingnya?!?!
Cara cerdas yang kedua adalah langsung mendekati segerombolan penari Kalimantan dan acting sok kenal sok dekat, senyum manis, milih yang cakep dan berkata dengan lembut, tapi memikat,
“Kak, boleh minta tolong nggak? Teman – teman Kalimantan tolong masuk angkot itu dulu, sambil nunggu yang lain jalan.  Sopirnya sudah minta kita cepet!” (wink…wink…)
Cerdas kan? Jelas saja penari – penari itu sebagian besar langsung masuk angkot, dan pastinya mereka nggak bakal rela kalau ada temannya yang ketinggalan angkot. Jadi mereka pasti nyuruh sopir angkotnya menunggu teman – temannya yang lain. Kalau sopir itu ngamuk – ngamuk, anak – anak Kalimantan yang cowok sudah pasti bisa marah – marah balik. Aku tinggal lepas tangan, masa bodoh juga kalau mereka tawuran! Hehe :p cerdas!!!

Tahu – tahu ada ibu – ibu agak gendut keluar dan bilang dia mau numpang angkot pulang ke Grand Wahid Hotel. Hore! Dapat satu mangsa, langsung saja aku persilahkan ibu itu duduk di depan, tempat kehormatan di sebelah sopir. Kupikir dia itu tipikal ibu – ibu baik hati yang kayak di sinetron, ternyata dia itu lebih galak dari sopir angkot terus neriakina aku,
“Mbak, peserta lain yang masih di dalam kalau mau numpang angkot suruh cepetan! Mau nonton bola, nih!
“Maaf, Ibu tunggu sebentar sedang diumumkan,” aku senyum ramah  ala mbak – mbak customer service bank.
“Kalau manggil orang itu dipanggil namanya satu – satu biar cepet! Gimana, sih?!?”
“Maaf, Ibu, saya belum kenalan dengan masing – masing peserta seminar yang nginep di Grand Wahid. Ibu mau tunggu saya kenalan dulu? Atau tunggu teman saya member pengumuman untuk memanggil mereka?” haduh, aku enek!
Ditambah sopir angkot itu jadi tambah terprofokasi dan menginjak pedal gas nya kuat – kuat. Untung angkotnya nggak lompat terus nyangkut di pohon cemara.
“Cepet, Mbak! Wis wengi ki!” dia teriak – teriak pakai bahasa Jawa dan aku pura – pura nggak ngerti jadi orang Jawa biar aman.

Habis itu dia bentak – bentak aku pakai bahasa Indonesia! Wah, kesel banget! Darimana dia belajar bahasa Indonesia? Kalau aku pura – pura jadi bule terus ngomong pakai bahasa Inggris dia percaya aku bule nggak ya? Putus asa deh, skakmat! Aku liat jam, dan terhenyak kaget, marah tapi miris. Mereka kan baru disuruh tunggu lima menit dari waktu perjanjian. Bener – bener, deh!
“Pak, kan baru jam08.05! Baru tunggu lima menit dari waktu perjanjian, tolong sabar!”
Dan aku tambah dibentak – bentak! Nggak rela rasanya mbayar orang macam gini.
“Okey, Pak, ditunggu lima menit lagi. Kalau nggak ada yang numpang, Bapak boleh langsung pergi, tapi sekarang diam dulu. Kalau bapak nggak sabar, nanti bayarannya turun!”
Aduh, aku ngerasa bodoh banget ngomong gitu, dia jadi makin ngamuk – ngamuk. Aku kabur saja ke BU, manggil peserta yang mau numpang. Oke, tiga orang saja yang numpang. Rasanya sopir angkot itu pengen aku bayar pakai duit receh – receh yang aku sebar di lantai dan ngetawain dia dengan ekspresi jahat mungutin duit yang bertebaran,hahaha. Sayangnya nggak mungkin! Huah, dendam deh!

Tapi yang penting tugas malam itu selesai, yang paling penting aku nggak ingat muka sopir angkot itu, jadi nggak bakal ada kejadian aku balas dendam. Menjelma jadi siluman ular yang numpang angkot terus nyulik dia beserta angkotnya ke dimensi lain, terbang lewat awan – awan dan nabrakin dia ke elang yang lagi cari penumpang di langit sana. Lumayan juga bisa dapet duit, kan cerita ini bakal tayang di Indos*** (sensor, takurt dipenjara). Hahaha….

To be continued!!!!

Friday, September 30, 2011

loving you

*should I compare u to the summer breeze
-or to the sunshine in the east
just to find a perfect way to say
I love you
it's not about flower
nor wearing shoes after taking a shower
it's about loving u without any reason
starring at u with my closed eyes
as loving u is the only reason to love u

Wednesday, August 3, 2011

Cinta Itu Memang Ada



Selasa, 2 Agustus 2011, aku akan mengenang hari ini sebagai hari yang paling mengharukan dalam hidupku, hari dimana aku melihat kekuatan cinta dan penyertaan Tuhan yang sungguh luar biasa. Tepat pada hari itu kakek dan nenekku seharusnya mengadakan perayaan meriah untuk pernikahan mereka yang genap lima puluh tahun. Seharusnya ada kemeriahan dalam tawa di rumah, tempat dimana semua anak dan cucu mereka berkumpul, mengucap syukur dan merayakan cinta mereka yang abadi.
Namun, semua berubah lima belas hari sebelum tanggal 2 Agustus kakek tertidur dan tidak bangun lagi. Selama seminggu kakek berjuang di ICU, keadaannya tidak stabil karena ada pembuluh darah yang pecah sehingga cairan tertumpuk di otak. Pada saat yang sama kesehatan nenek yang sudah memburuk menjadi semakin kacau. Aku bisa membayangkan bagaimana beratnya melihat sesorang yang sangat kita cintai tidak sadarkan diri, pasti itu yang membuat terpuruk.
Hari itupun tiba, beberapa orang mulai mengatur acara doa bersama yang akan diadakan di rumah sakit karena kakek belum juga membuka matanya. Pihak rumah sakit turut membantu dengan menydiakan kue dan kursi roda untuk menjemput nenek saat turun dari mobil.
Aku hanya terdiam mengamati semua yang terjadi, menatap nenekku yang menggenggam tangan kakek tanpa mengucapkan sepatah katapun sambil menangis. Tak seorang pun mampu menahan air mata ketika doa bersama dimulai, termasuk pendeta yang memimpin ibadah singkat itu. Selama satu jam tangan nenekku masih terus menggenggam tangan kakekku yang tidak sadarkan diri.
Aku masih terdiam tanpa berkata, tanpa bergerak sedikitpun. Mataku panas, hatiku bergetar. Aku belum pernah melihat cinta yang begitu kuat, tanpa kata, tetapi sungguh terasa. Lima puluh tahun sudah mereka menjalani hidup pernikahan yang bahagia. Sangat bahagia!
Sungguh luar biasa, aku selalu melihat mereka bahagia meskipun menghadapi masalah, mereka juga yang membuatku percaya bahwa cinta itu memang ada, cinta itu memang nyata. Mampu menyatukan dua orang yang sungguh berbeda, kakekku yang sungguh keras dengan karakternya yang tegas dan tidak mudah mengungkapkan rasa sayang, sementara nenekku yang lemah lembut dan penuh kehangatan. Cinta mereka tetap tumbuh bahkan ketika mereka mengalami masa sulit di awal pernikahan, sampai memiliki hidup yang layak, anak – anak yang luar biasa dan cucu – cucu yang menyayangi mereka.
Suasana yang sungguh mengharukan itu akhirnya selesai perlahan, satu per satu sanak saudara keluar dari ruang rawat kakek sambil berlinang air mata. Berpelukan satu sama lain dan menguatkan kakek – nenek. Sampai akhirnya nenek sudah terlalu lelah dan harus pulang, kami semua menangis ketika sepasang anak manusia yang mempunyai cinta sejati itu menggenggam tangan dan berpamitan. Aku tahu kakek pasti mendengar, meskipun tak mampu membuka mata. Sebagian besar dari kami pulang dan beberapa orang masih tinggal di rumah sakit untuk menjaga kakek. Hatiku masih bergetar ketika aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju mobil. Aku tahu persis kakek tidak pernah berkata, “Aku sayang padamu,” pada nenek, tetapi semua yang dilakukannya sudah melebihi ungkapan sayang yang dirasakannya. Aku benar -  benar tak bisa menahan air mataku yang terus mengalir.
Aku sangat syukur dapat melihat kekuatan cinta mereka dan sempat diasuh oleh mereka. Mereka yang membuatku merasa dicintai, tidak merasa sendirian, dan percaya akan sebuah kebahagiaan dan cinta bisa hadir dalam hidupku. Terimakasih sudah membuatku berani mencoba mencintai seseorang dalam hidupku dan berani berharap suatu hari aku akan bahagia seperti mereka. Terimkasih sudah membuatku belajar, sesuatu yang buruk mungkin menimpa hidupku, tetapi itu bukan alasan untuk merasa tidak dicintai dan takut akan masa depan. Karena cinta itu memang ada, cinta itu memang nyata.

Friday, May 27, 2011

Bermain Layang - Layang, hehehe



awal kisah dimulai dari sini

Sore itu panas, cerah ceria (bahasanya Anel) berangin sepoi – sepoi di Salatiga. Mendadak muncul ide gila yang bermula dari status di akun face book Anel yang intinya berbunyi, “Pengen main layangan”. Langsung saja kami bertiga (saya, Anel, dan Cantik) berniat menerbangkan layangan (yang belum dibeli) di Lapangan Pancasila, ini alun – alunnya Salatiga, loh!
on the way Lapangan Pancasila
sebelum berjuang poto doloooo
Langkah bermain layang – layang ala kami bertiga:
  1. Jalan (tanpa arah jelas) menyusuri gang cari warung yang jual layangan dan benangnya.
  2. Karena step 1 gagal, langkah 2 pun muncul à tanya anak kecil yang lagi main layangan, “Eh, dek, beli layangan dimana?” langsung menuju tempat penjualan layangan (hehehe) diantar adik itu. It’s done by Dhenok
  3. Memilih layangan dengan motif minimalis plus benangnya.
  4. PENTING: minta penjualnya memasangkan benang ke layangan (karena kami tidak bisa, hehehe). Langsung bayar (gak boleh ngutang!). It’s done by Anel.
  5. Membawa layangan ke Lapangan Pancasila (hehehe..giliran ini buat Cantik saja). Tips: diplastikin biar orang gak liat!
  6. Sampai lapangan, coba sebisanya menerbangkan layangan.
  7. Segeralah menyerah, dekati seorang anak – anak sambil berkata, “Dek, bisa minta tolong terbangin layangan ini gak? Nanti, layanganmu kakak pegangin.” (Ini akal – akalan supaya kita bisa merasakan nikmatnya megang layangan yang sudah mengudara.
  8. Step terakhir ini penting: karena sudah bosan dan hasu jadi beli es buah, es teller, dan siomay. Hehehe..
kiri: tipe pejuang, kanan: tipe perampas..hehe


ini lebih enak dibanding main layangan


enak ki, harga terjangkau!

cuma nyisa es sama sendok n mangkok!


pulang? poto lageee



Tuesday, May 24, 2011

Ironisnya Jadi Orang Indonesia


Pagi ini saya mengawali hari dengan selembar kabar menggelikan dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang diungkap Kompas dalam kolom regional, sebuah semburan air muncul dan langsung dianggap air bermukjizat oleh warga sekitar. Warga berbondong – bondong datang mengambil air itu, bahkan mandi di sana tanpa mengecek asal muasal air itu. Bahkan muncul selentingan yang menyatakan air itu akan membuat kita gampang jodoh. Ironisnya, pejabat setempat, seperti pegawai keluarahan dan kecamatan, awalnya percaya saja dengan air mukjizat itu. Di akhir kisah menggelikan ini terkuak sebuah kebenaran, air mukjizat itu adalah bocoran pipa PDAM, benar – benar sebuah akhirnya yang cukup membuat muka memerah.
Fenomena sejenis ini sudah menjadi hal yang tidak asing di masyarakat kita, sudah terjadi berkali – kali di banyak tempat di Indonesia (tentunya masih ingat kisah Ponari di tahun 2009), mulai dari yang terpencil sampai yang di pusat pemerintahan. Jika hal kepercayaan sejenis ini muncul di antara orang – orang yang masih berpikiran dangkal karena kurang pendidikan dan rendahnya tingkat penghasilan, mungkin masih bisa menjadi hal bisa dimaklumi, tetapi apakah tidak ironis jika ada aparat pemerintahan yang ikut – ikutan percaya? Mengapa orang – orang pintar itu tidak berpikiran lebih jernih dan rasional sebelum percaya? Mengapa sebelum dilakukan pengecekan orang – orang sudah langsung percaya ada hal magis dalam sesuatu yang sebenarnya sering muncul?
Ada sesuatu yang memprihatinkan dalam masyarakat Indonesia, itu hal yang saya tangkap dari fenomena ini. Orang menjadi mudah percaya kepada hal – hal yang tidak rasional tanpa mengecek terlebih dulu, ini menunjukkan tidak adanya pikiran yang dalam dan jernih dalam menanggapi sebuah kejadian. Seperti orang yang sedang putus asa sehingga mau melakukan apapun asal permasalahan terselesaikan tanpa berpikir logis.
Jika kita mau menilik lebih dalam, sebagian besar orang yang percaya begitu saja merupakan orang – orang dari golongan marginal dan sub-marginal. Kita tidak bisa menutup mata, himpitan hidup mereka begitu berat dan menekan, mulai dari himpitan ekonomi, pendidikan, sampai dengan status sosial. Dalam kondisi ini pemerintah seharusnya bisa menjadi pamong, bukan malah ikut – ikutan kalap.
Dari sisi ini saya melihat orang Indonesia berada dalam kondisi haus akan jawaban. Begitu berat kehidupan yang diahadapi denga berbagai masalah yang menekan, hal ini mendorong pikiran untuk mencari sebuah jalan keluar dalam menyelesaikan masalah. Terutama dalam kalangan yang kurang mengenyam pendidikan, keputusasaan dan ketidakmampuan berpikir kritis mengarahkan pikiran masyarakat ke sebuah kondisi dimana nilai – nilai rasional menjadi hal yang tidak dipandang. 

http://regional.kompas.com/read/2011/05/24/18201210/Air.Mukjizat.Masjid.Ternyata.PDAM.Bocor
http://regional.kompas.com/read/2011/05/23/09054240/Warga.Mandi.Semburan.Air.di.Tengah.Mesjid

Saturday, May 21, 2011

Pentas Seni Budaya Indonesia

Bhineka Tunggal Ika, Ya Satya Wacana


Katanya, sih, Universitas Kristen Satya Wacana dikenal sebagai miniatur Indonesia karena di UKSW ini ada (hampir) seluruh etnis dari Sabang sampai Merauke. Sebuah event tahunan yang mempertunjukan kebudayaan dari setiap etnis yang ada di Indonesia pun diadakan. Tahun ini Pentas Seni Budaya Indonesia (PSBI) yang bertemakan Bhineka Tunggal Ika, Ya Satya Wacana digelar selama tiga hari berturut - turut mulai tanggal 19 - 21 Mei lalu, dalam PSBI ini dipentaskan berbagai macam budaya daerah; tari, vokal grup, fashion show, makanan khas, sampai band etnis sebagai penutupnya.



Tuesday, May 17, 2011

Aku Ini Anak yang Beruntung


* “Kamu memang beruntung jika Tuhan melemparmu ke tempat yang kamu inginkan,
tetapi jika suatu kali Tuhan membuangmu ke tempat yang tidak kamu harap, percayalah satu hal:
Dia tahu kamu adalah pembawa keberuntungan, sehingga Dia ingin kamu membuat tempat itu beruntung karena memilikimu.”
dedicated to my lovely brother


Seberapa dari kita yang punya mimpi untuk hidup di suatu tempat, menempuh pendidikan di universitas  XX dan mengambil jurusan XY seperti yang kita mau atau mungkin pekerjaan di kota ini dan tinggal di negara itu? Aku pun memiliki mimpi yang begitu besar untuk bisa jalan – jalan ke luar negeri.
Aku ini hanya seorang anak kampung kecil di provinsi Jawa Tengah, satu hal yang mungkin mustahil untukku bisa menjadi seperti orang – orang TV yang menjadi bintang tamu talk show karena mereka mebuat ini – itu atau pergi kesana – kemari. Namun, aku memiliki sebuah mimpi. Aku bermimpi suatu hari aku terbangun di belahan dunia lain entah dimana. Aku bermimpi bisa tinggal dan bersekolah di sana dengan gratis karena (yang pasti) aku tidak punya setumpuk uang yang cukup untuk membayar mimpiku.
Kurang lebih tahun lalu aku melihat selembar pengumuman di papan pengumuman fakultasku, selembar kertas yang menerbitkan harapanku untuk pergi ke Amerika selama beberapa minggu. Aku akan coba! Itu yang ada di otakku. Aku (diam – diam) mempersiapkan semuanya, TOEFL, essay, dan menemui salah satu dosen yang menurutku bisa membantu dan memberikan reference letter. Aku mengeposkan berkasku ke Jakarta sendiri dan tidak mengatakan pada siapapun.
Sebuah keajaiban datang! Berkasku lolos seleksi dan aku masuk tahap interview. Bagiku ini  hal yang luar biasa, jika lolos interview aku akan berangkat ke Amerika. Wow! Akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepada seseorang yang juga mengajukan lamaran yang sama. Kebetulan yang luar biasa teman yang aku tanya juga lolos ke tahap interview. Aku mempersiapkan segalanya dengan baik, advisor-ku sangat senang dan mendoakanku lolos interview. Celaka, aku benar – benar merasa tidak enak ketika selama proses interview! Semua berlalu begitu saja, satu hal yang aku ingat, ”Jangan pernah kecewa jika gagal, Tuhan tidak suka anak yang mudah patah hati,” begitu kata ayah temanku, dan kata – kata itu masih tersimpan dalam hatiku sampa sekarang.
Aku menunggu pengumuman itu datang, sampai akhirnya aku tahu ternyata aku gagal. Sekuat hati aku mencoba untuk tidak kecewa, walau aku menangis. Beberapa saat aku menyadari ada sebuah perubahan besar dalam diriku selama setahun terakhir ini. Aku jadi cengeng! Aku terlalu mudah jathu dan menangis, aku sakit ketika seseorang menghinaku yang tidak bisa menari atau menyanyi dengan baik, aku menangis ketika teman – temanku menceritakan “panggungnya”, tempat dimana aku tidak bisa berada, dan aku akhirnya tahu Tuhan menegurku untuk tidak cengeng dan menjadi kuat dengan kegagalan ini.
Satu semester kemudian aku melamar beasiswa yang sama dengan harapan yang lebih besar. Seperti sebelumnya, berkasku lolos seleksi. Hanya ada dua orang dari kampusku yang mendapat panggilan interview. Aku kembali menapaki kota Semarang bersama temanku ini, dengan lebih tenang, lebih berserah, tetapi lebih berharap. Dengan sangat tenang aku mengikuti setiap proses dan menjawab satu pertanyaan yang mengerikan, “..so, give a me a reason why you are appropriate to get this program?”  Pertanyaan ini membuatku berpikir, professor yang mewawancaraiku menilaku layak, aku tersenyum dan menjawab. Mungkin aku berhasil. Namun, dua bulan kemudian aku tahu ternyata aku GAGAL (lagi).
Aku tidak menangis, aku tersenyum. Menemui pembimbingku (dan istrinya) yang menudukungku. Aku menceritakan semuanya dengan senyuman lega, sangat terhibur dengan kata – kata mereka, “We’re proud of you no matter what!” dan sebuah pelukan melegakan. Terimakasih!
Aku berpikir, Tuhan hanya ingin aku fokus dengan kuliahku, bersikap rendah hati dan melakukan segala sesuatu di sini sebaik mungkin. Menikmati dan memuji dengan tulus bakat teman – teman di sekililingku dan menari di atas panggungku sendiri. Aku bahagia memiliki kehidupan luar biasa, dan mempunyai kesempatan untuk melayani Tuhan dengan teman – teman luar biasa di sekililingku.
Memasuki tahun – tahun akhir kuliahku, aku mulai merencanakan untuk mencari pekerjaan dan melanjutkan kuliah. Aku tersenyum bahagia melihat sebuah kesempatan yang (mungkin) akan Tuhan beri padaku, sebuah tempat dimana aku bisa mulai menaiki tangga mimpiku sambil melanjutkan sekolah.
Ketika rencanaku sudah tersusun (setengah) rapi Tuhan memberiku sesuatu yang belum pernah aku pikirkan. Seorang dosen memanggilku dan menawariku bergabung sebuah program yang memberiku kesempatan besar memperoleh beasiswa di suatu negara yang sangat aku kagumi, belum akan kusebut sekarang, hehe.. dengan segala pertimbangan aku menerima tawaran itu. Memang program ini akan memotong sebagian besar tabungan S2-ku, tetapi aku akan menjalaninya dengan baik. Aku tahu peluang yang Tuhan beri, dan apa yang bisa aku perbuat di sini. Jika esok Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk mendapatkan beasiswa untuk sekolah lagi, aku tidak akan menangis dan putus asa karena aku sudah membuat program ini beruntung memilikiku dan Tuhan tidak akan mematahkan tangga mimpiku begitu saja. Jika esok Tuhan memberiku hadiah berupa beasiswa melalui program ini aku akan menjadi anak yang paling beruntung dan (akan) membuat orang – orang di sekelilingku beruntung karena aku beruntung.